Saturday, April 13, 2013

Hipotesis tentang Pembelajaran Bahasa Kedua dan Penerapannya dalam Pembelajaran



BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Di antara semua bidang linguistik terapan, bidang pembelajaran bahasa ibu dan bahasa asing merupakan bidang yang sudah mantap perkembangannya karena pembelajaran bahasa mempunyai daya jual yang tinggi dan diperlukan masyarakat. [1]
Kegiatan pembelajaran bahasa merupakan upaya yang mengakibatkan siswa bisa belajar bahasa dengan cara efektif dan efisien. Upaya yang dilakukan dapat berupa analisis tujuan, karakteristik studi dan siswa, analisis sumber belajar, menetapkan strategi pengorganisasian, isi pembelajaran, menetapkan strategi penyampaian pembelajaran, menetapkan strategi pengelolaan pembelajaran, dan menetapkan prosedur pengukuran hasil pembelajaran.
Kondisi saling ketergantungan antara satu negara dengan negara lainnya menjadikan penguasaan bahasa kedua sesuatu yang sangat penting dewasa ini. Kita perlu mempelajari bahasa kedua untuk ke-pentingan sektor pendidikan, pariwisata, politik dan ekonomi.
Pemerolehan bahasa kedua tidak sama de-ngan pemerolehan bahasa pertama. Pada pe-merolehan bahasa pertama siswa berawal dari awal (saat kanak-kanak belum menguasai bahasa apa pun) dan perkembangan pemerolehan bahasa ini seiring dengan perkembangan fisik dan psikhisnya. Pada pemerolehan bahasa kedua, siswa sudah me-nguasai bahasa pertama dengan baik dan per-kembangan pemerolehan bahasa kedua tidak seiring dengan perkembangan fisik dan psikhisnya. Selain itu pemerolehan bahasa pertama dilakukan secara informal dengan motivasi yang sangat tinggi (siswa memerlukan bahasa pertama ini untuk dapat berkomunikasi dengan orang-orang yang ada di sekelilingnya), sedangkan pemerolehan bahasa kedua dilakukan secara formal dan motivasi siswa pada umumnya tidak terlalu tinggi karena bahasa kedua tersebut tidak dipakai untuk berkomunikasi sehari-hari di lingkungan masyarakat siswa tersebut.
Pentingnya pembelajaran bahasa kedua yang dilatarbelakangi oleh berbagai aspek, membuat seseorang mempelajari bahasa kedua. Proses dan pemerolehan bahas kedua tersebut dipengaruhi dari penggunaan bahasa ibu atau bahasa daerah tertentu. Kemudian proses pembelajaran bahasa kedua tersebut dimulai dari proses pembelajaran formal maupun dari lingkungan.

1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, dirumuskan beberapa pertanyaan sebagai berikut:
1.      Apa saja hipotesis-hipotesis tentang pembelajaran bahasa kedua?
2.      Bagaimana implikasi/penerapan hipotesis pembelajaran bahasa kedua, dalam proses pembelajaran bahasa?

1.3. Tujuan
                        Makalah ini disusun dengan tujuan sebagai berikut”
1.      Mengetahui hipotesis-hipotesis tentang pembelajaran bahasa kedua
2.      Memaparkan implikasi/penerapan hipotesis pembelajaran bahasa kedua, dalam proses pembelajaran bahasa





BAB II
PEMBAHASAN
TEORI HIPOTESIS PEMBELAJARAN BAHASA

A.  PENGERTIAN
Secara harfiah hipotesis berasal dari bahasa Yunani, yaitu dari kata hupo dan thesis. Hupo berarti sementara, atau kurang kebenarannya atau masih lemah kebenarannya. Sedangkan thesis berarti pernyataan atau teori. Sumber lain dengan pernyataan yang hampir sama bersumber dari Somantri Ating (2006) menyatakan hipotesis (Hypothesis) berasal dari bahasa Yunani, yaitu Hupo yang berarti sementara dan Thesis yang bermakna pernyataan atau dugaan. Oleh karena merupakan pernyataan sementara, maka hipotesis harus diuji kebenarannya. Husaini Usman, dkk menyatakan Hipotesis ialah pernyataan sementara yang perlu diuji kebenaranya. Mohammad Ali menyatakan hipotesis adalah rumusan jawaban atau kesimpulan sementara yang harus diuji dengan data yang terkumpul melalui kegiatan penelitian. Sedangkan, Suharimi Arikunto (2002:64) menjelaskan hipotesis itu adalah suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian, sampai terbukti melalui data-data yang terkumpul.
Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik. Dengan kata lain, pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik.
Proses pembelajaran dialami sepanjang hayat seorang manusia serta dapat berlaku di manapun dan kapanpun.
Pembelajaran mempunyai pengertian yang mirip dengan pengajaran, walaupun mempunyai konotasi yang berbeda. Dalam konteks pendidikan, guru mengajar supaya peserta didik dapat belajar dan menguasai isi pelajaran hingga mencapai sesuatu objektif yang ditentukan (aspek kognitif), juga dapat mempengaruhi perubahan sikap (aspek afektif), serta keterampilan (aspek psikomotor) seseorang peserta didik. Pengajaran memberi kesan hanya sebagai pekerjaan satu pihak, yaitu pekerjaan guru saja. Sedangkan pembelajaran juga menyiratkan adanya interaksi antara guru dengan peserta didik. Agar lebih jelas memahami pengertian dari pembelajaran bahasa, kita dapat membaca ilustrasi dibawah ini.
“Marsyanda” berasal dari Padang. Ia merantau ke Jogjakarta untuk membantu kakaknya yang membuka warung nasi, selama satu bulan ia tidak bisa berkomunikasi dengan masyarakat di sekitarnya karena bahasanya berbeda dengan bahasa yang dipakai masyarakat Jogjakarta dalam berkomunikasi (bahasa Jawa). Setelah tiga bulan di Jogjakarta ia sedikit demi sedikit sudah bisa berkomunikasi dengan masyarakat disekelilingnya dengan menggunakan bahasa Jawa.
“Sizuka” berasal dari Jepang. Ia bekerja di Bank Of Tokyo. Setelah dua tahun bekerja ia ditunjuk untuk menjadi kepala cabang Bank of Tokyo yang ada di Indonesia. Merasa dirinya tidak bisa berbahasa Indonesia, sesampainya di Indonesia ia mencari tempat kursus bahasa Indonesia. Sesudah tiga bulan kursus bahasa Indonesia. Ia mampu membaca surat kabar berbahasa Indonesia.
Kedua ilustrasi di atas menunjukkan perbedaan proses kemampuan berbahasa yang dimiliki oleh “Marsyanda” dan “Sizuka”. “Marsyanda” memiliki bahasa lain melalui proses pemerolehan (Acquisition), sedangkan “Sizuka” memiliki bahasa lain melalui proses pembelajaran (Learning). Jadi Pembelajaran bahasa merupakan proses pemerolehan bahasa kedua (B2) setelah seorang memperoleh bahasa pertamanya (B1). Proses pemahaman seorang yang akan merespon dan memaknai suatu bahasa atau lambang tertentu.

B.  HIPOTESIS PEMBELAJARAN BAHASA ASING
Hasil yang telah dicapai oleh para pakar pembelajaran bahasa sampai saat ini belum secara mantap bisa disebut sebagai teori karena belum teruji dengan mantap. Oleh karena itu, masih lebih umum disebut sebagai suatu hipotesis. Di antara hipotesis-hipotesis itu  yang perlu diketengahkan adalah: hipotesis kesamaan antara bahasa pertama dan bahasa kedua, hipotesis kontrastif, hipotesis krashen, hipotesis bahasa-antara, hipotesis pijinisasi. Secara singkat kelima hipotesis tersebut akan dibicarakan dibawah ini.

1.  Hipotesis Kesamaan Antara Bahasa Pertama dan Bahasa Kedua
Hipotesis ini menyatakan bahwa adanya kesamaan dalam proses belajar B1 dan belajar B2. Kesamaan itu terletak pada urutan pemerolehan struktur bahasa, seperti modus interogasi, negasi dan morfem-morfem gramatikal. Hipotesis ini menyatakan bahwa unsur-unsur bahasa diperoleh dengan urutan-urutan yang diramalkan. Unsur kebahasaan tertentu akan diperoleh terlebih dahulu, sedangkan unsur kebahasaan lain diperoleh baru kemudian. Studi tentang urutan pemerolehan morfem gramatika bahasa inggris telah membuktikan hal ini (Nurhadi, 1990: 5). Namun, dalam hal penguasaan lafal, kanak-kanak dapat menguasai B1 dengan pelafalan yang baik dan secara alamiah, sedangkan B2 dapat dikuasai dengan pelafalan yang kurang sempurna. Memang hal ini belum terbukti kebenarannya.
Implikasi dalam Pembelajaran Bahasa:
·         B1: Bahasa Indonesia, B2: Bahasa Arab
·         Anak lebih fasih mengucapkan bahasa Indonesia, dibandingkan bahasa Arab, misal:
ü  Anak mengucapkan kata أستاذdengan berakhiran huruf “d” è Ustad, karena dalam bahasa Indonesia tidak ada ejaan huruf ذ  (dz)

2.  Hipotesis Kontrastif
Hipotesis ini dikembangkan oleh Charles fries (1945) dan Robert lado (1957). Hipotesis ini menyatakan bahwa kesalahan yang dibuat dalam belajar B2 adalah karena adanya perbedaan B1 dan B2. Sedangkan kemudahan dalam belajar B2 disebabkan oleh adanya kesamaan antara B1 dan B2. Jadi, adanya perbedaan antara B1 dan B2 akan menimbulkan kesulitan dalam belajar B2, yang mungkin juga akan menimbulkan kesalahan, sedangkan adanya persamaan antara B1 dan B2 akan menyebabkan kemudahan dalam belajar B2.
Hipotesis kontrastif ini juga menyatakan bahwa seorang pembelajar bahasa kedua sering sekali melakukan transfer B1 ke dalam B2 dalam menyampaikan suatu gagasan. Transfer ini dapat terjadi pada semua tingkat kebahasaan: tata bunyi, tata bentuk kata, tata kalimat, maupun tata kata (leksikon). Dalam hal ini bisa terjadi transfer positif, yakni kalau struktur B1 dan B2 itu sama, dan ini akan menimbulkan kemudahan. Dapat juga terjadi transfer negatif, yakni kalau struktur B1 dan B2 itu tidak sama, dan ini  akan menimbulkan kesulitan.
Adanya pemikiran bahwa B1 akan mempengaruhi pembelajaran B2, maka akan membuat para pakar berusaha mendeskripsikan struktur B1 dan B2 agar dapat memprediksi kesukaran dan kemudahan yang akan dialami dalam pembelajaran B2 itu.
Implikasi dalam Pembelajaran Bahasa:
·         B1: Bahasa Indonesia, B2: Bahasa Arab
·         Perbedaan antara B1 dan B2 akan menimbulkan kesulitan dalam belajar B2, contoh:
ü  S = س
ü  ش = tidak ada huruf (sy) dalam abjad bahasa Indonesia
·         Persamaan antara B1 dan B2 akan menyebabkan kemudahan dalam belajar B2, contoh:
ü  S = س
ü  T = ت

3.  Hipotesis Krashen
Berkenaan dengan proses pemerolehan bahasa, Stephen Krashen mengajukan Sembilan buah hipotesis yang saling berkaitan. Kesembilan hipotesis ini adalah: hipotesis perbedaan antara pemerolehan dan belajar, hipotesis urutan ilmiah, hipotesis monitor, hipotesis masukan, hipotesis efektif, hipotesis bakat, hipotesis filter afektif, hipotesis bahasa pertama, hipotesis variasi individual dalam penggunaan monitor.
a.  Hipotesis perbedaan pemerolehan dan belajar
Menurut hipotesis ini dalam penguasaan suatu bahasa perlu dibedakan adanya pemerolehan (acquisition) dan belajar (learning). Pemerolehan adalah penguasaan suatu bahasa melalui cara bawah sadar atau alamiah dan terjadi tanpa kehendak yang terencana. Proses pemerolehan tidak melalui usaha belajar yang formal atau eksplisit. Sebaliknya, yang dimaksud dengan belajar ialah usaha sadar untuk secara formal dan eksplisit menguasai bahasa yang dipelajari, terutama yang berkenaan tentang kaidah-kaidah bahasa. Belajar terutama terjadi atau berlangsung dalam kelas.
Implikasi dalam Pembelajaran Bahasa:
·         Pemerolehan: Anak yang lahir di Indoesia, dan lingkungan sekitarnya menggunakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa komunikasi sehari-hari, tanpa disadari, anak tersebut akan fasih berbahasa Indonesia. (Dalam hal ini, Bahasa Indonesia sebagai bahasa ibunya)
·         Pembelajaran: Anak membutuhkan pembelajaran bahasa khusus, untuk mempelajari bahasa asing, setelah ia memperoleh bahasa ibunya.
b.  Hipotesis Urutan Alamiah (natural order)
Hipotesis ini menyatakan bahwa unsur-unsur bahasa dan kaidah bahasa diperoleh dalam urutan yang dapat diprediksi (Krashen, 1983:28). Selanjutnya, Krashen menegaskan bahwa tidak setiap pemerolehan sekaligus akan memperoleh  struktur alat  bahasa  dalam urutan yang persis sama. Krashen dalam hipotesis ini menyadari adanya struktur yang lebih cepat diperoleh dan lainnya lebih lambat. 
Implikasi dalam Pembelajaran Bahasa:
·         Anak akan lebih dahulu memperoleh vokal-vokal [a] sebelum [i] dan [u]
·         Konsonan  depan lebih dahulu dikuasai oleh anak dari pada konsonan belakang
·         Anak-anak  penutur  bahasa  Indonesia lebih awal menguasai kata-kata vokalis, seperti: mama, papa, ibu, nene, apa, ada, dan semacamnya, cenderung lebih awal diperoleh daripada kata-kata: ambil, untuk, tidak, simpan, dan semacamnya. Urutan alamiah ini tidak saja terjadi pada masa kanak-kanak, tetapi juga pada saat dewasa.
c.  Hipotesis Pemantau (monitor)
Pernahkah anda ragu dalam melakukan praktik B2? Nah, keraguan itu disinyalir sebagai akibat kelebihan monitor dalam proses internal berbahasa.  Monitor ini muncul dalam pikiran seseorang saat belajar B2 dan berfungsi sebagai pengedit dan pengkoreksi bahasa.
Implikasi dalam Pembelajaran Bahasa:
·           Dalam belajar bahasa Arab, setelah siswa memahami penggunaan isim isyarah lil qarib mudzakkar (hadza) dan muannats (hadzihi), maka monitor akan muncul untuk mempertimbangkan bagaimana dan kapan siswa menggunakan ‘hadza’ dan ‘hadzihi’.
Hipotesis ini mendapatkan bantahan  dari Barry McLaughlin karena dianggap memiliki ketidaktuntasan pemantauan terhadap pemakaian B2.  Salah satu kritiknya adalah bahwa monitor jarang dipakai di dalam kondisi normal/alamiah pemakaian B2.
d.  Hipotesis Masukan (input)
Hipotesis ini menjelaskan bahwa pembelajaran B2 dianggap akan terjadi jika hanya siswa mendapatkan informasi/pengetahuan setingkat lebih tinggi daripada yang telah dikuasainya. Hipotesis ini dirumuskan dengan (i + 1), di mana i = input, yaitu pengetahuan yang sudah dimiliki siswa (kompetensi sebelum belajar) dan 1 = kompetensi setingkat dari sebelumnya. Jika (i + 2), atau lebih, maka pembelajaran akan sulit terjadi karena siswa akan merasakan kesulitan, sedangkan jika (i + 0), atau (i – 1) dan seterusnya mengindikasikan bahwa pembelajaran dilakukan dengan pengetahuan sebagai input yang sudah bahkan jauh telah dikuasai siswa.



e.  Hipotesis Afektif
Hipotesis ini menyatakan bahwa orang dengan kepribadian dan motivasi tertentu dapat memperoleh bahasa kedua dengan lebih baik dibandingkan orang dengan kepribadian dan sikap yang lain.
Implikasi dalam Pembelajaran Bahasa:
·         Seseorang dengan kepribadian yang terbuka dan hangat akan lebih berhasil dalam belajar bahasa kedua dibandingkan orang dengan kepribadian yang agak tertutup.
f.  Hipotesis Pembawaan (Bakat)
Hipotesis ini menyatakan bahwa bakat bahasa mempunyai hubungan yang  jelas dengan keberhasilan belajar bahasa kedua, sedangkan bakat berhubungan dengan belajar.
Implikasi dalam Pembelajaran Bahasa:
·         Mereka yang mendapat nilai tinggi dalam test bakat bahasa, pada umumnya berhasil baik dalam test tata bahasa. Jadi, aspek ini banyak berkaitan dengan belajar,dan bukan dengan pemerolehan.
g.  Hipotesis Filter Afektif (affective filter)
Hipotesis ini menyatakan bahwa sebuah filter yang bersifat afektif dapat menahan sehingga seseorang tidak atau kurang berhasil dalam usahanya dalam memperoleh bahasa kedua. Filter ini dapat berupa kepercayaan diri yang kurang, situasi yang menegangkan, dsb, yang dapat mengurangi kesempatan bagi masukan (input) untuk masuk ke dalam system bahasa yang dimiliki seseorang. Filter afektif ini lazim juga disebut mental block.
Implikasi dalam Pembelajaran Bahasa:
·         Seseorang yang kurang percaya diri dalam belajar bahasa, akan jauh lebih sulit dalam menguasai suatu bahasa, dibandingkan seseorang yang memiliki kepercayaan diri yang tinggi.


h.  Hipotesis bahasa pertama
Hipotesis ini menyatakan bahwa bahasa pertama anak akan digunakan untuk mengawali ucapan dalam bahasa kedua, selagi penguasaan bahasa kedua belum tampak. Jika seorang anak pada tahap permulaan belajar bahasa kedua dipaksa untuk menggunakan atau berbicara dalam bahasa kedua, maka dia akan menggunakan kosa kata dan aturan tata bahasa pertamanya.
Implikasi dalam Pembelajaran Bahasa:
·         Anak akan mencampurkan bahasa Arab ke dalam kaidah berbahasa Indonesia, , misalnya:
ü  Untuk mengucapkan kata disana, anak menggunakan kata في هناك, padahal hanya dengan mengucap kata هنا ك saja sudah cukup, tanpa diimbuhi kata في  (karena kata “هنا ك” sudah mengandung arti disana)
Oleh karena itu, sebaiknya guru tidak terlalu memaksa siswanya untuk menggunakan bahasa kedua yang sedang dipelajarinya. Berilah kesempatan pada anak untuk mendapatkan inputyang bermakna dan untuk mengurangi filter afektifnya. Dengan demikian, penguasaan bahasa kedua dengan sendirinya akan berkembang pada waktunya.
i.   Hipotesis Variasi Individu Penggunaan Monitor
Hipotesis ini berkaitan dengan hipotesis ketiga (hipotesis monitor),, menyatakan bahwa cara seseorang memonitor pengunaan bahasa yang dipelajarinya bersifat bervariasi. Ada yang terus menerus menggunakannya secara sistematis, tetapi ada pula yang tidak pernah menggunakannya. Namun, diantara keduanya ada pula yang mengunakan monitor itu sesuai dengan keperluan atau kesempatan untuk menggunakannya.
Ada yang tidak peduli tentang aturan-aturan tata bahasa dalam menggunakan bahasanya, artinya orang seperti itu tidak bisa menggunakan monitornya. Dia tidak peduli apakah kalimat yang digunakannya itu benar atau salah. Yang penting dia dapat menggunakan idenya dalam bahasa yang dipelajari. Model orang seperti inilah yang umumnya lebih cepat dalam belajar bahasa.

4.   Hipotesis Bahasa-Antara
Bahasa antara (interlanguage) adalah bahasa atau ujaran yang digunakan seseorang yang sedang belajar bahasa kedua pada satu tahap tertentu, sewaktu dia belum dapat menguasai dengan baik dan sempurna bahasa kedua. Bahasa ini bersifat khas dan mempunyai karakteristik sendiri yang tidak sama dengan bahasa pertama dan bahasa kedua. Tampaknya semacam perpindahan dari bahasa pertama ke bahasa kedua.
Bahasa antara ini merupakan produk dari strategi seseorang dalam belajar bahasa kedua. Artinya, bahasa ini merupakan kumpulan atau akumulasi yang terus menerus dari suatu proses pembentukan penguasaan bahasa.
Implikasi dalam Pembelajaran Bahasa:
·         Ketika belum menemukan istilah yang tepat, seseorang akan menggunakan kata baru, yang dianggapnya sama dengan kata dalam B2 yang dipelajarinya, contoh:
Seseorang menggunakan kata no what-what”, untuk mengatakan “tidak apa-apa”, padahal bahasa baku dalam B2 adalah never mind.

5.     Hipotesis Pijinisasi
Hipotesis ini menyatakan bahwa dalam proses belajar bahasa kedua, bisa saja selain terbentuknya bahasa antara terbentuk juga yang disebut bahasa pijin (pidgin), yakni sejenis bahasa yang digunakan oleh satu kelompok masyarakan dalam wilayah tertentu yang berada di dalam dua bahasa tertentu. Bahasa pijin ini digunakan untuk keperluan singkat dalam masyarakat yang masing-masing memiliki bahasa sendiri. Jadi bisa dikatan bahasa pijin ini tidak memiliki penutur asli (chaer dan agustina, 1995).

BAB III
PENUTUP
3..1 KESIMPUAN
Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik. Dengan kata lain, pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik. Bahasa kedua bagi seseorang dapat berupa bahasa daerah, bahasa nasional, atau bahasa asing. Proses pembelajaran dialami sepanjang hayat seorang manusia serta dapat berlaku di manapun dan kapanpun.
Makalah ini menjelaskan beberapa teori hipotesis pembelajaran bahasa asing, yaitu:
1.      Hipotesis kesamaan antara bahasa pertama dan bahasa kedua
Kanak-kanak dapat menguasai B1 dengan pelafalan yang baik dan secara alamiah, sedangkan B2 dapat dikuasai dengan pelafalan yang kurang sempurna.
2.      Hipotesis kontrastif
Adanya perbedaan antara B1 dan B2 akan menimbulkan kesulitan dalam belajar B2, yang mungkin juga akan menimbulkan kesalahan, sedangkan adanya persamaan antara B1 dan B2 akan menyebabkan kemudahan dalam belajar B2.
3.      Hipotesis krashen
a.       Hipotesis perbedaan pemerolehan dan belajar
Dalam penguasaan suatu bahasa perlu dibedakan adanya pemerolehan (acquisition) dan belajar (learning). Pemerolehan adalah penguasaan suatu bahasa melalui cara bawah sadar atau alamiah dan terjadi tanpa kehendak yang terencana, sedangkan belajar ialah usaha sadar untuk secara formal dan eksplisit menguasai bahasa yang dipelajari, terutama yang berkenaan tentang kaidah-kaidah bahasa.
b.      Hipotesis Urutan Alamiah (natural order)
Unsur-unsur bahasa dan kaidah bahasa diperoleh dalam urutan yang dapat diprediksi.
c.       Hipotesis Pemantau (monitor)
Keraguan dalam menggunakan bahasa kedua, diduga sebagai akibat kelebihan monitor dalam proses internal berbahasa.  Monitor ini muncul dalam pikiran seseorang saat belajar B2 dan berfungsi sebagai pengedit dan pengkoreksi bahasa.
d.      Hipotesis Masukan (input)
Pembelajaran B2 dianggap akan terjadi jika hanya siswa mendapatkan informasi/pengetahuan setingkat lebih tinggi daripada yang telah dikuasainya.
e.       Hipotesis Afektif
Orang dengan kepribadian dan motivasi tertentu dapat memperoleh bahasa kedua dengan lebih baik dibandingkan orang dengan kepribadian dan sikap yang lain.
f.       Hipotesis Pembawaan (Bakat)
Bakat bahasa mempunyai hubungan yang jelas dengan keberhasilan belajar bahasa kedua.
g.      Hipotesis Filter Afektif (affective filter)
Sebuah filter yang bersifat afektif dapat menahan sehingga seseorang tidak atau kurang berhasil dalam usahanya dalam memperoleh bahasa kedua, misalnya berupa kepercayaan diri yang kurang, situasi yang menegangkan.
h.      Hipotesis bahasa pertama
Bahasa pertama anak akan digunakan untuk mengawali ucapan dalam bahasa kedua, selagi penguasaan bahasa kedua belum tampak.
i.        Hipotesis Variasi Individu Penggunaan Monitor
Cara seseorang memonitor pengunaan bahasa yang dipelajarinya bersifat bervariasi. Ada yang terus menerus menggunakannya secara sistematis, tetapi ada pula yang tidak pernah menggunakannya, dan ada pula yang mengunakan monitor itu sesuai dengan keperluan atau kesempatan untuk menggunakannya.


4.      Hipotesis bahasa-antara
Bahasa atau ujaran yang digunakan seseorang yang sedang belajar bahasa kedua pada satu tahap tertentu, sewaktu dia belum dapat menguasai dengan baik dan sempurna bahasa kedua.
5.      Hipotesis pijinasi
Proses belajar bahasa kedua, bisa saja selain terbentuknya bahasa antara terbentuk juga yang disebut bahasa pijin (pidgin), yakni sejenis bahasa yang digunakan oleh satu kelompok masyarakan dalam wilayah tertentu yang berada di dalam dua bahasa tertentu.


DAFTAR PUSTAKA

Chaer, Abdul. 1994. Linguistik Umum. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Chaer, Abdul
.  2003, Psikolinguistik: Kajian Teoritik. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Kushartanti, dkk. 2005. Pesona Bahasa: Langkah Awal Memahami Linguistik. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.




[1] Kushartanti, dkk. Pesona Bahasa: Langkah Awal Memahami Linguistik (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2005), h. 221.

0 comments:

Post a Comment