Tuesday, December 24, 2013

Integrasi-Interkoneksi Amin Abdullah; Sebuah Gagasan Integrasi Islam dan Sains



BAB I
PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang
Akhir-akhir ini selaras dengan terjadinya proses sekularisasi dan dehumanisasi akibat modernisasi, muncul tuntutan agar kedua pendekatan studi islam dan sains tidak di kotomikan dalam mengkaji islam, tetapi di integrasikan atau di interkoneksikan. Pada prinsipnya, sesuai dengan ajaran Al-Qur’an, islam memang tidak mengenal dikotomi antara agama dan ilmu (sains), jasmani dan rohani, rasio dan empiris, dunia dan akhirat.
Gagasan tentang integrasi ilmu pengetahuan agama dan ilmu pengetahuan umum bukan merupakan fenomena baru dalam khazanah epistemologi keilmuan islam.Pada asanya, islam memang tidak mendikhotomi antara ilmu agam dan ilmu umum. Pada era golden age (masa keemasan) islam periode Abbasiyah, kedua ilmu pengetahuan ini tetap terintegrasi hingga kemudian di buyarkan oleh redupnya dinamika peradaban islam menyusul terjadinya spesialisasi ilmu pengetahuan modern yang bersembnyi di balik politik kolonialisasi dan imperialisasi dunia islam.
Pada era modern islam pasca kolonial hingga sekarang, gagasan ilmu pengetahuan yang integratif bergaung kembali dalam berbagai konsep, semisal islamisasi ilmu pengetahuan, saintifikasi Al-Qur’an, objektifikasi ajaran islam, dll. Keseluruhan konsep ini, grand theme sebenarnya menghendaki atau mengidealkan ilmu pengetahuan islam tidak sekedar menjadi media dakwah, tapi di kembalikan kepada koetentikanya sebagai sistem ilmu pengetahuan yang memiliki fungsi transformatif dan responsif terhadap isu-isu modern sejalan dengan tuntutan kebutuhan aktual masyarakat.
Bukan masanya sekarang disiplin ilmu–ilmu agama (Islam) menyendiri dan steril dari kontak dan intervensi ilmu-ilmu sosial dan ilmu-ilmu kealaman dan begitu pula sebaliknya. Perlu ada integrasi–interkoneksi antara elemen-elemen pengetahuan tersebut. M. Amin Abdullah seorang cendekia muslim menjadi tokoh yang berjasa dalam pengembangan gagasan integrasi–interkoneksi ini, sehingga berimplikasi dalam banyak hal,perubahan konsep IAIN menjadi UIN diantaranya.
  1. Rumusan Masalah
            Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis kemudian merumuskan masalah sebagai berikut:
  1. Apa yang menjadi landasan terciptanya integrasi-interkoneksi?
  2. Apa pengertian studi islam integrasi-interkoneksi?
  3. Kenapa studi islam di integrasi-interkoneksikan?
  4. Bagaimana model integrasi-interkoneksi?
  5. Siapakah M. Amin Abdullah itu?

  1. Tujuan Penelitian
  1. Untuk mengetahui landasan diciptakannya integrasi-interkoneksi
  2. Untuk mengetahui pengetian studi islam integrasi-interkoneksi
  3. Untuk mengetahui alasan studi islam di integrasi-interkoneksi
  4. Untuk mengetahui model-model integrasi-interkoneksi
  5. Untuk mengetahui profil singkat M. Amin Abdullah dan corak pemikirannya


BAB II
PEMBAHASAN

A.  Landasan Integrasi-Interkoneksi
Hal-hal yang melandasi integrasi-interkoneksi antar ilmu agama dan sains M.Amin Abdullah adalah sebagai berikut:
1.        Landasan Normatif-Teologis,
Landasan normatif-teologis secara sederhana dapat diartikan sebagai suatu cara memahami sesuatu dengan menggunakan ajaran yang diyakini berasal dari Tuhan (Allah SWT) sebagaimana terdapat di dalam wahyu yang diturunkan-Nya. Kebenaran normatif teologis bersifat mutlak karena sumbernya berasal dari Tuhan (Allah SWT). Landasan ini akan memperkokoh bangunan keilmuan ilmu-ilmu umum (sains-teknologi dan sosial-humaniora). [1]
Al-Qur’an tidak membedakan antara ilmu-ilmu agama (islam) dan ilmu-ilmu umum (sains-teknologi dan sosialhumaniora).  Ilmu-ilmu agama (islam) dan ilmu-ilmu umum (sains-teknologi dan sosialhumaniora) tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Bahkan Allah SWT berfirman di dalam surat Al- Qashash ayat ke-77, yang artinya “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagian) negeri akherat, dan janganlah kamu melupakan kebahagiaanmu dari kenikmatan duniawi”.
Ayat tersebut menjelaskan bahwa kita tidak boleh memisahkan antara kepentingan kehidupan akherat (ilmu-ilmu agama) dan kepentingan kehidupan di dunia (ilmu-ilmu umum). Firman Allah dalam al-qur’an surat Al- Qashash ayat ke-77 di atas didukung oleh sabda rasulullah SAW yang artinya “bekerjalah kamu untuk duniamu seolaholah kamu akan hidup selamanya dan dan bekerjalah untuk akheratmu seolaholah kamu akan meninggal esok hari (HR Ibnu Asakir)
Al-Qur’an selain berisi ayat-ayat tentang ilmu ilmu agama juga berisi ayat-ayat tentang ilmu umum temasuk konsep-konsep dalam matematika, sebagai contoh Q.S. 35:1, 37:147,18:25, 29:14, dan lain lain. Al-qur’an juga memuat tentang metode pengembangan ilmu pengetahuan termasuk ilmu matematika, sebagai contoh Q.S. 2:31 (definisi) dan Q.S. 6: 74-79 (riset). Selanjutnya mengenai perintah untuk melakukan penelitian (suatu kegiatan yang penting di dalam pengembangan sains), secara umum dapat dilihat antara lain dalam firman-Nya pada surat Yunus, ayat ke-101  “Katakanlah Muhammad: lakukanlah nadzor (penelitian dengan menggunakan metode ilmiah) mengenai apa-apa yang ada di langit dan bumi.
Perintah lebih khusus terdapat dalam surat al-Ghosiyah, ayat ke-17–20 yang artinya: “Apakah mereka tidak memperhatikan onta, bagaimana ia diciptakan. Dan langit, bagaimana ia ditinggikan. Dan gunung, bagaimana ia ditancapkan. Dan bumi bagaimana ia dihamparkan”. Ayat-ayat tersebut merupakan ayat-ayat metode ilmiah, yang memerintahkan kepada umat manusia untuk selalu meneliti. Kegiatan penelitian yang mencakup pengamatan, pengukuran, dan analisa data telah membawa perubahan besar dalam dunia ilmu pengetahuan dan teknologi termasuk ilmu matematika. “niscaya Allah akan meninggikan orangorang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu amalkan”. (Q.S. Al Mujadilah : 11)[2]
2.        Landasan Historis,
Perkembangan ilmu pengetahuan pada abad pertengahan didominasi oleh ilmu-ilmu agama. Ilmu-ilmu umum termasuk ilmu matematika kurang berkembang karena tekanan dari ilmu-ilmu agama. Pada masa ini hubungan antara ilmu ilmu agama dan ilmu-ilmu umum tidak harmonis.
Pada abad modern, tekanan dari ilmu-ilmu agama mulai berkurang bahkan hamper tidak ada. Berkurangnya/hilangnya tekanan ilmu-ilmu agama, menyebabkan berkembangnya ilmu-ilmu umum secara pesat.  Tidak adanya sentuhan agama pada ilmu-ilmu umum, mengakibatkan ilmu-ilmu umum berkembang dengan mengabaikan norma-norma agama dan etika kemanusiaan.
Belajar dari perkembangan keilmuan di atas, pengembangan ilmu pengetahuan, baik ilmu-ilmu agama maupun ilmu-ilmu umum termasuk ilmu matematika harus berjalan beriringan, tidak boleh satu disiplin ilmu mendominasi disiplin ilmu yang lain. Dengan memadukan antara ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu umum, tujuan akhir dari ilmu pengetahuan yaitu untuk meningkatkan kesejahteraan umat manusia dan menjaga kelestarian alam dapat tercapai
3.        Landasan Filosofis
Secara ontologis, obyek studi ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu umum termasuk ilmu matematika, memang dapat dibedakan. Ilmu-ilmu agama mempunyai obyek wahyu, sedangkan ilmu-ilmu umum mempunyai obyek alam semesta beserta isinya. Tetapi kedua obyek tersebut sama-sama berasal dari Tuhan (Allah SWT), sehingga pada hakekatnya antara ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu umum termasuk ilmu matematika, ada kaitan satu dengan yang lain.
Secara epistemologis, ilmu-ilmu agama (islam) dibangun dengan pendekatan normatif, sedangkan ilmu-ilmu umum dibangun dengan pendekatan empiris. Tetapi, wahyu yang bersifat benar mutlak itu sesuai dengan fakta empiris. Dengan demikian baik pendekatan normatif maupun pendekatan empirik, kedua-duanya digunakan dalam membangun ilmu-ilmu agama maupun ilmu-ilmu umum.[3]
Secara aksiologis, ilmu-ilmu umum bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan hidup di dunia, sedangkan ilmu-ilmu agama bertujuan untuk mensejahterakan kehidupan umat manusia di dunia dan akhirat. Sehingga ilmu-ilmu umum termasuk ilmu matematika perlu diberi sentuhan ilmu-ilmu agama sehingga tidak hanya kebahagiaan dunia yang diperoleh tetapi juga kebahagiaan di akhirat.

4.        Landasan kultural
Keberadaan kampus islam di Indonesia, dalam hal ini UIN, berbeda dengan kebudayaan Arab tempat Islam diturunkan dan kebudayaan Barat tempat berkembangnya ilmu pengetahuan. Proses pendidikan tidak boleh mengabaikan budaya lokal, baik dalam menerjemahkan Islam maupun pengembangkan ilmu pengetahuan.
Jika UIN hanya mengembangkan tafsir nilai-nilai keislaman berdasarkan qur’an dan Hadist (hadlarah al-Nash) dan ilmu pengetahuan (hadlarah al-’Ilm) maka UIN tidak menghasilkan sarjana yang menghasilkan kontribusi nyata kepada masyarakat Indonesia. Sehingga diperlukan mendialogkan kedua hadlarah di atas dengan hadlarah falsafah yang konsen dengan aspek praktis kontekstual dalam kultur lokal masyarakat[4]
5.        Landasan Psikologis
Paradigma integrasi-interkoneksi yang ditawarkan UIN dimaksudkan untuk membaca dan memahami kehidupan manusia yang kompleks secara padu dan holistik.Hal ini akan terwujud dengan menyiapkan dan mencetak mahasiswa menjadi sosok pribadi muslim yang utuh.
Potensi dari Allah aspek psikologis yang harus dicapai Hadlarah al-Nash hati Iman / Aqidah yang kuat Hadlarah al-’Ilm akal Ilmu / wawasan yang luas, Hadlarah al-Falsafah Jasad / badan Amal / kinerja yang produktif. Sosok mahasiswa yang diharapkan yaitu memiliki iman dan aqidah yang kuat, tertanam menghunjam dalam hati yang kokoh.  Memiliki ilmu pengetahuan yang luas, tidak hanya keilmuan di bidangnya saja. Memiliki amal dan kenerja yang produktif, memberi kemanfaatan kepada lingkungan masyarakatnya[5]
Pertentangan ketiga ranah/domain tersebut dalam diri seseorang dapat menimbulkan keterpecahan kepribadian (personality disorder / split personality) Terjadi konflik antara yang diyakini dengan yang dipikirkan juga dengan yang dihadapi dalam realitas kehidupan “Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan”. (Ash-Shof : 2-3)
B.  Pengertian Studi Islam Integrasi-Interkoneksi
Studi islam integrasi-interkoneksi adalah kajian tentang ilmu-ilmu keislaman, baik objek bahasan maupun orientasi metodologinya dan mengkaji salah satu bidang keilmuan dengan memanfaatkan bidang keilmuan lainnya serta melihat kesaling-terkaitan antar berbagai disiplin ilmu tersebut.[6]
Jika di telusuri lebih jauh,gagasan tentang integrasi antara ilmu agama dengan ilmu umum ini sebenarnya tidak lepas dari rangkaian panjang pergulatan aktualisasi diri umat islam terhadap proses modernisasi dunia yang tengah berlangsung dalam skala global. Islam dan tantangan miodernitas merupakan tema paling menonjol dalam agenda pembaharuan pemikiran islam yang di dengungkan oleh para mujaddid islam sepanjang sejarah.
Kekuatan tema ini terutama berkaitan erat dengan realitas kemunduran dan keterbelakangan umat islam dalam berbagai aspek kehidupan vis a vis kemajuan dunia barat.Salah satu fokus garapan para pembaharu dalam proses modernisasi islam adalah bidang pendidikan. Bidang pendidikan ini di pandang sebagai sektor paling terbelakang yang menghambat laju percepatan modernisasi di dunia islam,akibat pola pikir umat yang terkondisikan oleh anggapan bahwa antara agama yang bersumber dari wahyu dan sains yang bersumber dari hasil pikiran manusia merupakan dua entitas berbeda yang tidak berkaitan satu sama lain.
Akibat pemahaman terbelah ini, karakter pendidikan islam yang semula tidak memisahkan antara kebutuhan terhadap agama dengan ilmu, iman dengan amal, serta dunia dengan akhirat lalu kemudian mengalami kemujudan yang berdampak pada penjajahan dunia islam atas supremasi barat.


Horizon
Jaring Laba-Laba Keilmuan
Teoantroposentrik-Integralistik
dalam Universitas Islam Negeri[7]






Sebagai contohnya,dalam konsep integrasi-interkoneksi yang di kembangkan oleh UIN, secara detail di ungkap bahwa dalam kasus UIN yang nota-bene merupakan lembaga pendidikan islam variabel multi-dimensi keilmuannya tidak hanya beurusan dengan realitas hidup dan realitas manusia sebagaimana dalam ilmu-ilmu “umum”, namun juga menyangkut realitas teks sebagaimana khas ilmu-ilmu agama atau lebih tepatnya “ilmu-ilmu keislaman”.
Dengan menimbang variabel-variabel ini, maka ideal integrasi-interkoneksi yang di gagas oleh UIN mensyaratkan dialektika antara variabel-variabel tersebut dalam praksis integrasi-interkoneksi. Brand yang diusung oleh UIN untuk menyebut dialektika ini adalah Hadarat al-Nash, Hadarat al-‘ilm dan Hadarat al-falsafah. Hadarat al-Nash berarti kesediaan untuk menimbang kandungan isi teks keagamaan sebagai wujud komitmen keagamaan/keislaman. Hadarat al-‘ilm berarti kesediaan untuk profesional, objektif, inovatif dalam bidang keilmuan yang di geluti; dan akhirnya Hadarat al-falsafah berarti kesediaan untuk mengkaitkan muatan keilmuan dengan tanggung jawab moral etik dalam praksis kehidupan riil di tengah masyarakat.
Maka kesimpulannya adalah Hadarat al-Nash adalah jaminan identitas keislaman, Hadarat al-‘ilm adalah jaminan profesionalitas-ilmiah, dan Hadarat al-falsafah adalah jaminan bahwa muatan keilmuan yang di kembangkan bukan “menara gading”yang berhenti di “langit akademik”, tetapi memberi kontribusi positif-emansipatif yang nyata dalam kehidupan masyarakat.
C.  Kenapa Studi Islam Di Integrasi-Interkoneksikan
Dalam diskursus ilmu pengetahuan modern, bidang-bidang terpisah secara tegas dan jelas. Biologi, Fisika, Psikologi, Geografi dan lain sebagainya, merupakan contoh bidang-bidang yang di maksud. Setiap bidang mewakili dimensi kehidupan tertentu dan para ilmuan dari masing-masing bidang ‘hanya’ fokus pada bidang yang di gelutinya. Dengan kata lain, para ilmuan ini mereduksi realitas hanya sebatas bidang yang menjadi lahannya. Hal ini sebenarnya bukan permasalahan besar, karena kenyataannya realitas hidup memang multi-dimensi dan multi-aspek. Kiranya mustahil bagi seseorang untuk mampu menguasai seluruh bidang keilmuan tersebut secara sama mendalam.
Meskipun sebenarnya kenyataan spesialisasi dan reduksi ini dapat di katakan sifatnya niscaya karna keterbatasan manusiawi, namun dampak negatif dari kenyataan ini ternyata tidak terlalu menyenangkan. Dikotomi ilmu agama-ilmu umum, hegemoni bidang ilmu tertentu terhadap bidang lainnya, superior-inferior feeling dari masing-masing bidang ilmu, hirarki ilmu utama-ilmu komplementer, adalah akibat-akibat laten yang harus di tanggung dari kenyataan spesialisasi di atas. Lebih jauh ternyata dampak ini kemudian merambah ke dunia sosial, dunia pendidikan, dunia politik, dan lain lain, sehingga tidak jarang muncul konflik di ranah sosial maupun politik akibat adanya ekslusifisme dari masing-masing bidang ilmu.
Pada akhirnya secara psikologis banyak orang yang mengalami kegelisahan luar biasa karena antara dunia yang dia alami, yang multi-dimensi, dengan keilmuan yang dia hayati, yang hanya satu dimensi dan yang satu-satunya dia pahami, ternyata tidak sejalan. Orang yang menghayati ilmu fiqih saja pasti gelisah ketika berhadapan dengan kenyataan sosial yang berbeda dengan isi ilmunya.Orang yang menghayati ilmu ekonomi saja pasti gelisah karena berhadapan dengan “logika zakat dan sedekah” ala fiqih. Orang yang menghayati ilmu geografi saja pasti gelisah ketika berhadapan dengan adanya ruang baru yang di sebut dengan “dunia virtual” atau “dunia maya”.
Paradigma integrasi-interkoneksi hakekatnya ingin menunjukkan bahwa antara berbagai bidang keilmuan tersebut sebenarnya saling memiliki keterkaitan, karena memang yang di bidik oleh seluruh disiplin keilmuan tersebut adalah realitas alam semesta yang sama, hanya saja dimensi dan fokus perhatian yang di lihat oleh masing-masing disiplin berbeda. Oleh karena itu, rasa superior, ekslusifitas, pemilihan secara dikotomis merhadap bidang-bidang keilmuan yang di maksud hanya akan merugikan diri sendiri, baik secara psikologis maupun secara ilmiah-akademis. Betapapun setiap orang ingin memiliki pemahaman yang lebih utuh dan komprehensif, bukannya pemahaman yang parsial dan reduktif. Maka dengan menimbang asumsi ini seorang ilmuan perlu memilikivisi integrasi-interkoneksi.
D.  Model Integrasi-Interkoneksi
Model-model integrasi-interkoneksi Amin Abdullah,[8] yaitu:
1.      Informatif , Suatu disiplin ilmu memberikan informasi kepada disiplin ilmu yang lain. Misalnya: Ilmu Islam (Al-qur’an) memberikan informasi kepada ilmu saintek bahwa matahari memancarkan cahaya sedangkan bulan memantulkan cahaya (Q.S. Yunus: 5)
2.      Konfirmatif (klarifikatif), Suatu disiplin ilmu memberikan penegasan kepada disiplin ilmu lain. Contoh: Informasi tentang tempat-tempat (manaazil) matahari dan bumi dalam Q.S. Yunus: 5, dipertegas oleh ilmu saintek (orbit bulan mengelilingi matahari berbentuk elips).
3.      Korektif , Suatu disiplin ilmu mengoreksi disiplin ilmu yang lain. Contoh: Teori Darwin yang mengatakan bahwa manusia-kera-tupai mempunyai satu induk, dikoreksi oleh Al-qur’an.
Sedangkan alternatif model Integrasi-Interkoneksi,[9]adalah berikut ini:
1.      Paralelisasi: menyamakan konotasi dari ilmu-ilmu yang berbeda
2.      Similarisasi: menyamakan teori-teori dari ilmu-ilmu
3.      Komplementasi: Saling mengisi dan saling memperkuat
4.      Komparasi: membandingkan konsep teori diantara ilmu-ilmu
5.      Induktifikasi: mendukung teori ilmu dengan instrumen dari ilmu lain
6.      Verifikasi: menunjang dengan penelitian ilmiah ilmu satu dengan ilmu yang lain. 
Skema tiga lingkaran terkait ini merupakan proyek keilmuan yang didengungkan oleh visi dan misi perubahan IAIN ke UIN. Perubahan IAIN menjadi universitas Islam merupakan langkah positif dalam rangka pengembangan jangkauan wilayah studi keislaman. Hal ini berarti jangkauan ilmu-ilmu Islam menjadi semakin luas. Skema di atas menunjukkan bahwa masing-masing bangunan sektor keilmuan menyadari akan kekurangan-kekurangan yang melekat dalam diri sendiri dan oleh karenanya bersedia untuk berdialog, bekerjasama dan memanfaatkan metode dan pendekatan yang digunakan oleh gugusan ilmu lain untuk melengkapi kekurangan-kekurangan yang melekat jika masing-masing berdiri sendiri-sendiri, terpisah antara satu dan lainnya. Diperlukan upaya yang sungguh-sungguh dari berbagai pihak, dari waktu ke waktu dengan kesediaan mengorbankan kepentingan egoisme sektoral keilmuan sehingga yang terlihat adalah mengedepankan kebersamaan dalam ilmu pengetahuan.[10]
Bangunan keilmuan yang selalu terkait selaras dan sejajar tersebut menjadi icon percontohan aplikasi keilmuannya yakni di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang saat itu dipimpin oleh tokoh pencetus ide interkonesi dan integrasi. Jika dibandingkan dengan bangunan keilmuan yang berkembang di UIN Jakarta melalui figur sentral Harun Nasution, kajian Islam di IAIN masih terbatas hanya pada pengajaran agama yang fiqh oriented. Disamping itu pengajaran agama baik filsafat, tasawuf maupun sejarah terbatas pada pemikiran tokoh-tokoh tertentu saja. Pemahaman Islam yang demikian itu parsial dan hanya melihat Islam secara sempit saja. Oleh karena itu ia mengusulkan untuk membuat suatu pedoman inti yang melihat Islam secara komprehensif. Gagasan tersebut untuk pengenalan Islam secara komprehensif, dengan melihat Islam dari berbagai aspeknya diintegrasikan ke dalam kurikulum nasional untuk pengajaran Islam. Pemikiran Harun saat itu dianggap tidak lazim dan pada awal mulanya menjadi kontroversi. Bagi sebagian kalangan utamanya mereka yang terdidik dalam pola fikir tradisional, pandangan-pandangan Harun Nasution dianggap tidak bersesuaian dengan pola pemikirn tradisional dan ini terjadi karena dipengaruhi oleh konsep-konsep Barat.[11]
Sebenarnya, ilmu merupakan media dalam kehidupan untuk membimbing manusia menuju ke jalan tugas utamanya, oleh karena itu haruslah secara keseluruhan dipelajari dan diajarkan dalam rangka menggapai kesuksesannya. Segala keilmuan menurut paradigma ini harus terintegrasi dalam proses tugas kemanusiaan dalam hidup sebagai khalifah maupun sebagai hamba Allah yang mencakup pengenalan area keilmuan, penekanan terhadap pemahaman potensi-potensi manusia yang dimiliki dan aplikasi dinamisnya, konsentrasi dalam perencanaan serta evaluasi hasil, adanya makna dalam aktivitasnya serta adanya pengaturan hubungan positif dengan semua pihak yang memiliki keterkaitan dengan pelaksaan tugas tersebut.[12] Pada akhirnya, paradigma interkonektif-integratif dalam idealitas dan realitasnya diharapkan mampu membentuk pola pikir komunikatif-efektif yang dapat mencairkan pola pikir dikotomis dan memberikan suasana yang penuh damai antar disiplin keilmuan

E.  Sekilas M. Amin Abdullah
Amin Abdullah lahir di Margomulyo, Tayu, Pati, Jawa Tengah, 28 Juli 1953. Lulus dari SD Negeri Margomulyo pada tahun 1966, Amin Abdullah, kemudian melanjutkan studinya di Kulliyat al-Mu’allimin al-Islamiyyah (KMI), Pesantren Gontor, Ponorogo (lulus pada tahun 1972), dan Program Sarjana Muda (Bakalaureat) pada Institut Pendidikan Darussalam (IPD) (lulus pada tahun 1977).[13] Selepas pendidikan di Gontor, Amin Abdullah melanjutkan pendidikanya ke Fakultas Ushuluddin, Jurusan Perbandingan Agama, IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (lulus tahun 1982) dan kemudian, dengan beasiswa Departemen Agama dan Pemerintah Republik Turki, dia bersekolah melanjutkan program doktor dalam bidang Filsafat Islam, di Department of Philosophy, Faculty of Art and Sciences, Middle East Technical University (METU), Ankara, Turki (1985-1990) dan kemudian, pada tahun 1997-1998, dia mengikuti Program Post-Doctoral di McGill University, Kanada
Amin Abdullah adalah sosok pemikir yang produktif. Disertasinya yang berjudul The Idea of University of Ethical Norms in Ghazali and Kant diterbitkan di Turki (Ankara: Turkiye Diyanet Vakfi, 1992).[14] Karya-karya ilmiah lainnya yang diterbitkan, antara lain Falsafah Kalam di Era Postmodernisme (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1995), Studi Agama: Normativitas atau Historisitas (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996), Dinamika Islam Kultural: Pemetaan atas Wacana Keislaman Kontemporer, (Bandung, Mizan, 2000), Antara al-Ghazali dan Kant: Filsafat Etika Islam, (Bandung: Mizan, 2002), serta Pendidikan Agama Era Multikultural Multireligius (Jakarta: PSAP Muhammadiyah, 2005). Sedangkan karya terjemahan yang diterbitkan adalah Agama dan Akal Pikiran: Naluri Rasa Takut dan Keadaan Jiwa Manusiawi (Jakarta: Rajawali, 1985), Pengantar Filsafat Islam: Abad Pertengahan (Jakarta: Rajawali, 1989).
Selain publikasi, kompetensi akademik Amin Abdullah juga tampak dalam aktifitas akademik yang dia ikuti, seperti Seminar internasional yang diikuti, antara lain: “Kependudukan dalam Dunia Islam”, Badan Kependudukan Universitas Al-Azhar, Kairo, Juli 1992, tentang “Dakwah Islamiyah”, Pemerintah Republik Turki, Oktober 1993; Lokakarya Program Majelis Agama ASEAN (MABIM), Pemerintah Malaysia, di Langkawi, Januari 1994; “Islam and 21st Century”, Universitas Leiden, Belanda, Juni 1996; “Qur’anic Exegesis in the Eve of 21st Century”, Universitas Leiden, Juni 1998, ”Islam and Civil Society: Messages from Southeast Asia“, Tokyo Jepang, 1999; “al-Ta’ri>h} al- Islami>y wa Azamah al-huwaiyah”, Tripoli, Libia, 2000; “International anti-corruption conference”, Seol, Korea Selatan, 2003; Seminar “New Horizon in Islamic Thought”, London, Agustus, 2003; “Gender issues in Islam”Kuala Lumpur, Malaysia, 2003; “Dakwah and Dissemination of Islamic Religious Authority in Contemporarry Indonesia”, Leiden, Belanda, 2003. “Interfeith Dialogue: Conflict and Peace,” The Luthern World Federation (LWF) Kopenhagen Denmark, Oktober 2003; “New Direction of Islamic Thought and Practice: Equality and Plurality”, Yogyakarta, Indonesia, Juni 2004; “Religious Harmony: Problems, Practice and Education”, Yogyakarta, Indonesia, Oktober 2004; “The Idea (L) of an Indonesian Islamic University: Contemprary Perspectives”, Yogyakarta, Indonesia, 9-11 Desember 2004; “University Teaching of Islamic Studies at the International Level: Concept, Policy and Trends”, Songkla, Southern Thailand, 19-20 Maret 2005;”International Rudolf-Otto-Symposion”, Philipps Universitat Marburg, Jerman, 8-10 Mei 2005. [15]
Ketika kuliah di Turki, Amin Abdullah menjabat sebagai Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI), Turki, 1986-1987. Pada masa liburan musim panas, dia pernah bekerja part-time pada Konsulat JenderalRepublik Indonesia, Sekretariat Badan Urusan Haji, di Jeddah (1985 dan 1990), Mekkah (1998), dan Madinah (1989), Arab Saudi. Tahun 1993-1996, dia menjabat Asisten Direktur Program Pascasarjana IAIN Sunan Kalijaga; 1992-1995 menjabat Wakil Kepala Lembaga Pengkajian dan Pengamalan Islam (LPPI) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Tahun 1998-2001 sebagai Pembantu Rektor I (Bidang Akademik) IAIN Sunan Kalijaga dan pada Januari 1999 mendapat kehormatan menjadi Guru Besar dalam Ilmu Filsafat dari IAIN Sunan Kalijaga. Dari tahun, Amin Abdullah 2002-2005 sebagai Rektor IAIN/UIN Sunan Kalijaga.Tahun 2005-2010 sebagai Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta untuk Periode kedua.
 Sementara itu, dalam organisasi kemasyarakatan, dia menjadi Ketua Divisi Ummat, ICMI, Orwil Daerah Istimewa Yogyakarta, 1991-1995. Setelah Muktamar Muhammadiyah ke-43 di Banda Aceh 1995, diberi amanat sebagai Ketua Majelis Tarjih dan Pengembangan Pemikiran Islam, Pimpinan Pusat Muhammadiyah (1995-2000). Kemudian terpilih sebagai salah satu Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Wakil Ketua (2000-2005). Kini, disamping sebagai mengajar di beberapa universitas, seperti di Fakultas Ushuluddin dan Program Doktor Pascasarjana IAIN (sekarang UIN) Sunan Kalijaga, IAIN Sunan Ampel Surabaya, Universitas Islam Indonesia, Universitas Gajah Mada, Amin Abdullah juga menjabat sebagai staf ahli Menteri Agama Republik Indonesia (2011-).[16]






BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Paradigma baru yang dibangun oleh Amin Abdullah dengan integratif-interkonektif ini memang sangat relevan dengan kebutuhan zaman saat ini. Koneksitas ini diharapkan mampu menjawab kebuntuan dalam keilmuan islam dan lebih jauh lagi dapat menjawab kompleksitas problem kemanusiaan di era globalisasi. Namun paradigma ini tidak mudah untuk diaplikasikan, hal ini bisa dilihat ketika paradigma ini coba diterapkan dalam pengembangan perguruan tinggi agama yang mengejawantah dengan perubahan IAIN menjadi UIN ternyata banyak menimbulkan kerancuan terutama bagi program-program studi yang muncul kemudian, dan hal ini menurut harus segera dicarikan solusi, sehingga tujuan ideal dari integrasi dan interkoneksi ini dapat terwujud.
Perubahan IAIN ke UIN mengisyaratkan akan adanya keilmuan yang mmpertimbangkan dari aspek lain dan tidak hanya memandang teks saja yang tidak berhubungan dua wajah keilmuan lain. Dalam konteks ini, paradigma keilmuan UIN memandang bahwa antara ilmu-ilmu qauliyyah/hadarah al-nash dengan ilmu-ilmu kauniyyah-ijtia’iayyah/hadarah al-‘ilm, maupun dengan hadarah al-falsafah berintegrasi dan berinterkoneksi satu sama lain.
Dengan demikian, perlunya mengubah paradigma (shifting paradigm) dan pandangan dunia (world view) tentang realitas alam dari pendekatan tunggalnya yang bersifat empiris dan materialistis yang mengabaikan nilai etika dan agama, menjadi pandang yang bersifat kualitatif, berdasarkan nilai (value-based), holistik, dan integralistik.Konsepsi baru ini sekaligus sebagai penyempurnaan dalam proses retafikasi dan verifikasi suatu realitas alam sebagai bagian dari metode ilmiah.Dan pembaca secara hermeneutik terhadap realitas qauliyah dan kauniyah akan sangat membantu dalam mengekplorasi nilai-nilai yang terkandung secara kontekstual pada keduanya. Pembaca inilah “yang mungkin” di maksud dengan kandungan makna perintah IQRA’.
Semoga uraian rintisan ini memberikan rangsangan untuk mengembangkan berbagai disiplin keilmuan yang telah ada maupun yang akan di buka di UIN kelak, sebagai upaya pencarian (discovery) dan tanggung jawab islam terhadap pengembangan ilmu-ilmu.






[1] Abuddin nata dkk, Prospectus UIN Syarif Hidayatullah. 2006. Jakarta: UIN Jakarta Press
[2] Abdurrahman,Muhammad ‘Imaduddin dan Mukjizat Al-Qur’an dan As-Sunnah Tentang IPTEK.Jakarta: GIP,1997
[3] M. Amin Abdullah dkk, Integrasi Sains-Islam Mempertemukan Epistimologi Islam dan Sains. 2004. (Yogyakarta: Pilar Religia).hlm 11
[4] Pokja Akademik UIN Sunan Kalijaga,2004
[5] ibid
[6] ibid
[7] M. Amin  Abdullah, Islamic Studies di Perguruan Tinggi: Paradigma Integratif-Interkonektif,  (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006) hlm 107
[8] Diunduh dari http://islamandsains.wordpress.com pada tanggal 6 November 2013
[9] ibid
[10] M. Amin Abdullah, Islamic Studies Di Perguruan Tinggi…, hlm. 405
[11] Fuad Jabali dan Jamhari, IAIN dan Modernisasi Islam di Indonesia, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 2002), hlm. 42-43
[12] Machasin, Integrasi Ilmu-ilmu Keislaman: Sebuah Catatan Kecil, Makalah Lokakarya Penyusunan Desain Keilmuan Integratif di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 9 Mei 2004, hlm. 372
[13] M. Amin Abdullah, Pendidikan Agama Era Multikultural Multi Religius (Jakaarta: PSAP Muhammadiyah, 2005), hlm. 191.
[14] M. Amin Abdullah, dkk., Seri Kumpulan Pidato Guru Besar: Rekonstruksi Metodologi Ilmu –ilmu keislaman (Yogyakarta: SUKA Press, 2003), hlm. 363.

[15] Suharyanta & Sutarman: Epistemologi Keilmuan Interkonektif-Integratif. Jurnal Mukaddimah, Vol. 18, No. 1, 2012
[16] ibid

0 comments:

Post a Comment