Tuesday, December 24, 2013

ISRAILIYAT DALAM TAFSIR


BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Dewasa ini telah kita ketahui bahwa ada banyak kitab Nabi yang disebut kitab samawi. Kitab-kitab samawi ini ada sejak zaman Nabi Adam sampai diutusnya Muhammad yang mempunyai landasan utama yaitu mengajak manusia untuk beriman kepada Allah dan memberikan bimbingan serta pengajaran untuk mencapai jalan yang lurus.
Pokok- pokok akidah dan syariat dalam kitab-kitab samawi pada dasarnya satu. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surah asy-Syura [42]:13, yang artinya: “Dia telah mensyariatkan bagi kaum tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan ‘Isa, yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya…….. ”
Adapun perincian syariat dan pengamalannya, antara kitab yang satu dengan yang lain terdapat perbedaan. Perbedaan tersebut merupakan akibat dari penyesuaiannya dengan kondisi zaman dan kemaslahatan umat. Apa yang bermaslahat untuk kondisi tertentu belum tentu bermaslahat pula untuk kondisi lainnya, dan apa yang sesuai dengan tabiat kaum tertentu belum tentu sesuai pula dengan kaumnya. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surah al-Ma’idahn [5]:48:[1]

   ...........لِكُلِّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَا جًا.........(المائدة: 48)
            “… untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang”
Al-Qur’an merupakan kitab yang terakhir dan diturunkan kepada  rasul yang terakhir pula. Al-Qur’an hadir untuk melengkapi isi kitab-kitab samawi yang turun sebelumnya, yaitu tentang ajaran aqidah dan syariat guna memperkuat iman seseorang kepada Allah dan kepada kehidupan akhirat. Al-Qur’an berbeda dengan kitab-kitab lainnya dalam aturan syariat, bentuk-bentuk ibadah dan tata cara muamalat, karena penyesuaiannya dengan keadaan zaman. Dan hanya al-Qur’an yang sesuai dengan tujuan akhir kehidupan manusia, yaitu mencari kesempurnaan hidup.[2] Karena kepentingan untuk mempelajari al-Qur’an dan tafsirnya secara benar, maka dari itu dikupaslah tentang israiliyat dalam tafsir.
                                                                      
B.     Rumusan Masalah
1.    Definisi dari israilliyat baik secara bahasa maupun istilah ?
2.    Bagaimana masuknya israilliyat ke dalam tafsir ?
3.    Adakah hukum-hukum riwayat israilliyat ?
4.    Bagaimanakah bahaya cerita israilliyat terhadap akidah kaum muslimin dan terhadap kesucian ajaran islam ?
5.    Apakah penyebab israilliyat diterima oleh para shahabat dan tabi’in ?


C.     Tujuan Masalah
1.    Untuk mengetahui definisi dari israilliyat baik secara bahasa maupun istilah
2.    Untuk mengetahui merembesnya israilliyat ke dalam tafsir
3.    Untuk mengetahui hukum-hukum riwayat israilliyat
4.    Untuk mengetahui bahaya cerita israilliyat terhadap akidah kaum muslimin dan terhadap kesucian ajaran islam
5.    Untuk penyebab israilliyat diterima oleh para shahabat dan tabi’in









BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Israiliyat
Sebelum melangkah lebih jauh tentang pembahasan Israiliyat, alangkah indah dan baiknya kita menta’rifkan apa itu Israiliyat baik secara bahasa ataupun menurut istilah nya, dan semoga Allah menjadkan ini semua dalam kategori yang bernilai ibadah hendak nya, amiiin……..
Israiliyat secara Bahasa
Adalah jamak dari kata mufradnya Israiliyah yang dinisbahkan kepada Nabi Ya’qub Alaihissalam, yang dimaksud disisni adalah kaum atau anak cucu dari Ya’qub alaihissalam atau yang lebih akrabnya kita kenal dengan nama Yahudi. Dan kalimat israiliyah berasal dari kata atau bahasa Ibraniyah,dan ia adalah murakab dari kata isra yang berarti ‘abdun atau hamba dan “il”yang bermakna Allah,jadi kata israil berarti hamba Allah[3]
Israiliyat secara Istilah
Sedangkan menurut istilah ialah kisah-kisah ataupun keterangan tentang Al-Qur’an yang atau pun Hadits bersumberkan dari Yahudi, tapi walaupun dinamakan Israiliyat (bersumber dari yahudi)Ulama sepakat untuk memakai kan istilah ini untuk keterangan terhadap Alqur’an baik yang bersumber dari Yaudi ataupun Nasrani dan yang lainnya[4]

2.2 Masuknya Israilliyat ke dalam Tafsir
Untuk menentukan tanggal ataupun musim masuk nya Israiliyat kedalam tafsir rasanya kita agak kesulitan karma shahabat ataupun tabiin tidak pernah menjelaskan hal yang demikian, tapi kita beranikan diri untuk mengataklan bahwa israiliyat masuk kedalam tafsir pada masa nabi yang bermulai ketika Nabi SAW hijrah ke madinah munawwarah(karma disituah sarang nya ahlul kitab)dan keteika itu jugalah Nabi SAW  menawarkan Islam kepada ahlilkitab, boleh jadi Nabi sendiri yang bertanya kepada mereka tentang tsaqafah mereka dalam Taurat atau pun Injil atau pun mereka yang bertanya kepada Rasulullah tentang Islam.
Kalau kita perhatikan hadits-hadits Nabi Muhammad saw pasti tak asing lagi bagi kita. Kalau menemukan dialog-dialog Nabi dan para ahli kitab baik itu dari golongan Nasrani ataupun Yahudi nya.
Sebenarnya cara merembesnya cerita-cerita Israilliyat ke dalam tafsir dan hadis didahului oleh masuknya kebudayaan Arab zaman jahiliyah. Pada waktu itu hidup di tengah-tengah orang Arab segolongan ahli Kitab, yaitu kaum Yahudi yang pindah ke Jazirah Arab sejak dahulu. Perpindahan itu terjadi secara besar-besaran pada tahun 70 M. Mereka lari dari ancaman dan siksaan yang datang dari Titus.[5]
Mereka pindah ke Jazirah Arab bersama kebudayaan yang mereka ambil dari kitab-kitab agama mereka. Uraian-uraian kitab itu mereka terima sebagai warisan dari nabi atau ulama mereka, dan mereka wariskan dari generasi ke generasi. Mereka mempunyai tempat yang diberi nama Midras, yaitu tempat yang dijadikan pusat pengkajian kebudayaan warisan yang telah mereka terima. Selain itu di tempat yang lain mereka menentukan tertentu sebagai tempat mereka beribadah dan menyiarkan.[6]
2.3 Hukum-hukum riwayat Israilliyat dan Maudu’-maudu’nya 
Untuk menghukum riwayat israiliyat ini dapat kita bagi menjadi tiga bagian penting
1.    dapat diterima
Riwayat yang akan kita terima dari israiliyat ini tentunya sesuai dan cocok dengan yang ada daalam syariat yang diturun kan kepada Nabi kita Muhammad saw,dan selama itu cocok maka boleh kita menerima riwayat tersebut,ini semua bardalil kan pada hadits Nabi saw yang artinya”beretahdits lah kamu dengan para banu israil karma itu semua tidaklah mengapa” maksud dari hadits yang shahih ini adalah bolehnya bertahdits dengan para ahlulkitab serta menerima nya selama kita tahu akan kebenaran nya dan sesuainya dengan apa yang diturun kepada Nabi Muhammad baik itu Alqur’an ataupun Hadits Rasulullah saw
2.    Riwayat yang tertolak atau mardud
Jika kita mengetahui dengan pasti akan kebohongan atau pun kedustaan riwayat israiliyat maka kewajiban kita selanjut nya adalah menolak nya dan tidak menerima nya serta tidak meriwayat kannya kwpada orang lain karma itu semua akan berdampak negative terhadap keyakinan kita sebagai umat islam dan akan merusak citra umat islam itu sendiri,ini dikarenakan nabi sendiri melarang umat nya untuk meriwayatkan kisah2 yang tidak masuk akal dan bertentangan dengan Al-qur’an dan sunnah Rasulillah

3.    Riwayat yang natawaqqaf minhu
Riwayat yang dimaksud disini adaklah riwayat israiliyat yang kita tidak tau kebenaran ataupun kebohongan nya,mungkin kita tidak pernah dapati didalam Alqur’an ataupun Hadits yang menyatakan kebohongan nya ataupun kebenaran nya,oleh karma itu Nabi saw telah mentahzir atau memperingatklan kita umat islam dalam sebuah hadits yamng cukup ma’ruf dikalangan ahlul ‘ilmi “laa tushadiquu ahlal kitabi walaa tukazibuuhum waquluu aamanna billahi wama unzila ilaina”jangan kamu benarkan kan ahli kitab itu dan jangan pula kamu dustakan mereka dan katakana lah kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami”
Adapun untuk meriwayat kan riwayat israiliyat yang seperti ini telah berselisih para ulama diantara mereka ada yang memboleh kan dan diatara yang lain nya melarang karma mereka menilai bahwa ini akan membawa agama pada hal-hal yang tidak diingin kan oleh Allah dan Nabi saw.


e.    Maudu’ riwayat israiliyat
Maudu’ maudu’ israiliyat ini tidak akan terlepas dari tiga hal pokok, yang insya Allah akan kita urut sebagai berikkut

1.    Maudu’ yang berhubungan dengan A’qidah
Seperti Apa Yang Diriwayat Kan Oleh Imam Al Bukhari Rahimahullah Didalam Kitab Shahih Nya Dari Abdullah Dia Berkata “Telah Datang Seorang Pendeta Yahudi Menghadap Nabi Saw Lalu Dia Berkata”Ya Muhammad Kami Mendapati (Di Dalam Taurat) Bahwa Allah Menjadikan Langit Pada Sebuah Jari Dan Bumi-Bumi Dalam Satu Jari Dan Seluruh Makhluk Lalul Allah Berkata Saya Adalah Raja Dalam Satu Jari Diwaktui Nabi Lannsung Tertawa Sehingga Tampak Gigi Taring Nya Karma Membenarekan Apa Yang Disampaikan Oleh Pendeeta Yahudi Tadi Kemudian Nabi Membaca Ayat
وما قدروا الله حق قدره

2.    Maudu’ yang berhubungan dengan Syaria’t (Ahkam)
Seperti apa yang dirirawayat kan oleh Imam Bukhari dari Abdullah bin Umar dia berkata bahwa segolongan orang yahudi datang untuk menghadap Nabi saw dengan membawa seorang laki-laki dan seorang perempuan yang telah berzina,lalu Rasulullah berkata bagaimana hokum nya menurut kamu?lalu mereka menjawab “kami pukuli saja”kemudian rasulullah berkata”apakah tidak kalian dapati didalam taurat hokum rajam?lalu mereka sepakat untuk menjawab”tidak!kemudian Abdullah bin salam berkata bohong kalian!dan seterus nya,,,,,

3.    Maudu’ yang berhubungan dengan kisah-kisahan pelajaran
Riwayat ini seperti apa yang diriwayat kan oleh Ibnu katsir dalam tafsir nya yang masyhur ketika mntafsirkan surat Hud ayat yang ke 38;yang artinya “dan buatlah perahu itu dengan pegawalan dan perintah kami,dan jangan tanyakan lagi kepadaku tentang orang2 kafir,sesungguhnya mereka akan ditenggelamkan”

Bahwa terdapat dalam taurat sesungguh nya Allah menyuruh Nabi Nuh untuk membuat perahunya dengan kayu jati dan panjang nya 80 ziras’ serta lebarnya 50 zira’ dan lain-lain.[7]

2.4  Bahaya Cerita Israilliyat Terhadap Akidah Kaum Muslimin Dan Terhadap Kesucian Ajaran Islam
                        Tidak dapat dilakukan lagi, bahwa cerita israiliyat yang mengandung kebatilan dan khurafat itu sebagian besar dinisbahkan kepad rasulullah dan para sahabatnya. Sebagian perang yang tekun di dalam menafsirkan al-Quran telah mengambil cerita itu sebagai materi tertentu, dalam rangka menafsirkan al-Quran. Dengan bentuk yang demikian itu akan tergambarkan bahaya yang luar biasa dan sangat banyak karena akan mengakibatkan hal-hal sebagai berikut:
1.    Cerita tersebut akan merusak kaidah kaum Muslimin karena mengandung unsur penyerupaan dan pengkongkritan (tasybih dan tajsim) kepada Allah dan menyifati Allah dengan sifat yang tidak sesuai dengan keagungan dan kesempurnaan-Nya.[8]
2.    Cerita-cerita israiliyat memberikan gambaran seolah-olah Islam itu agama yang penuh dengan khurafat dan kebohongan yang tidak ada sumbernya. Semuanya itu adalah kebohongan, siasat orang yang menyesatkan dan hayalan masyarakat yang tersesat.[9]
3.    Sesungguhnya dengan cerita israiliyah itu hampir saja hilang kepercayaan pada sebagian ulama Salaf, baik dari kalangan para sahabat maupun para tabi’in. tidak sedikit cerita israiliyah yang mungkar ini di sandarkan kepada segolongan ulama Salaf saleh yang dikenal keimanan dan keadilannya.[10]
4.    Hampir saja cerita israiliyat itu memalingkan manusia dari maksud dan tujuan al-Qur’an, memalingkan dari memikirkan ayat-ayatnya, mengambil manfaat dari ibarat dan nasihatnya, dan membahas hukum-hukum dan hikmahnya, sesutu yang tidak ada kebaikkannya, kepada hal-hal kecil yang tidak ada nilainya, menghabiskan waktu untuk mengetahui sesuatu yang tidak ada faedahnya.[11]

2.5 Penyebab Israilliyat diterima oleh para Shahabat dan Tabi’in
     Sebagaimana yang kita maklumi bahwa sebagian shahabat ataupun tabiin mereka meriwayat kan dari para tokoh ataupun ulama ahlul kitab itu sendiri,seperti halnya dengan Abu hurairah,Ibnu Abbas, Anas bin malik,dan lain lain nya dari para shahabat ridwanullahi alaihim,dan termasuk juga yang meriwayat kan dari mereka ini adalah kalangan tabiin, mereka mengambil dari ahlul kitab kemudian disampaikan kepada kalayak ramai,tetapi mereka para shahabat atau pun tabiin mereka meriwayat kan dari ahlul kitab ini punya syarat tertentu dan menerimanya pun punya syarat tertentu ,maka tak heran ketika para shahabat ataupun tabin ketika mereka menerima riwayat dari ahlul kitab terjadi perdebatan yang tak kalah sengit nya atau seminimal mungkin terjadi nya hiwar, dan insya allah akan kita jelaskan pada baba tertentu nanti nya.[12]

Dan mengenai penyebab shahabat ataupun tabiin menerima riwayat mereka para ahlul kitab itu dikarenakan oleh sebab-sebab berikut ini:
1.    Para shahabat ataupun tabiin ridwanullahi alaihim melihat dan menyaksikan bahwa Nabi saw  telah melakukan hal yang serupa diwaktu dulu,seperti dialog dengan para tokoh ahlul kitab terkhusus dari kalangan  yahudi,seperti dialog nabi dengan Abdullah bin Salam, yang sangat panjang sekali,yang pada inti nya Abdullah bin Salam menerangkan atau menjelaskan dan menanyakan tentang kerasulan Nabi Muhammad saw.
2.    penyebab yang kedua adalah bahwa Nabi pernah mengatakan didalkam hadits nya yang shahih seperti berikut ini.
“Riwayatkan lah atau bertahadits lah kamu dengan banu israil, karna itu tidaklah mengapa”.
Dan hadits ini dijadikan landasan oleh shahabat untuk menerima riwayatnya orang ahlul kitab terkhusus yahudi.
3.    Penyebab berikutnya adalah bahwa nabi saw tidak menafsirkan seluruh ayat al- Qur’an yag diturun kan kepadanya,maka untuk mentafsirkan ini diperlukan ilmu yang sagat luas dan sangat dibutuhkan para ahlul kitab yang punya tsaqafat tinggi dalam kitab mereka terlebih lagi ketika mentafsir kan ayat yang berhubungan dengan kisah-kisah terdahulu seperti kisah nya nabi adam,atau yang sebelum nya yaitu sebelum penciptaan adam as dan kisah-kisah para nabi sesudahnya.
Tapi yang perlu kita jadikan catatan penting dalam masalah ini adalah bahwa para shabhabat atupun tabiin tidak menanyakan seluruh persoalan yang ada pada ahlul kitab tapi mereka hanya menanyakn masalah yang berkisar tentang kisah-kisah atau pun kebiasaan ahlul kitab,tapi ketika berbicara masalah aqidah para sahabat ataupun tabiin tidak mau berkompromi dengan ahlul kitab,karma mereka berdalilkan dengan perkataan Nabi Sallahualaihi Wasallam”laa tusaddiquu ahlal kitaabi  wala tukazzibuhu waquuluu amanna billahi wama unzila ilaina.








BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Israiliyat merupakan kisah-kisah ataupun keterangan tentang Al-Qur’an ang atau pun Hadits bersumberkan dari Yahudi, tapi walaupun dinamakan Israiliyat (bersumber dari yahudi) Ulama sepakat untuk memakai kan istilah ini untuk keterangan terhadap Alqur’an baik yang bersumber dari Yaudi ataupun Nasrani dan yang lainnya.
Sebenarnya Israilliyat di dalam al-Qur’an juga sangat banyak sekali. Namun, di dalamnya tidak mengupas Israilliyat secara detail seperti yang ada di dalam kitab Taurat dan Injil. Dan oleh karena itu sebagian ulama’ ada yang berpendapat memperbolehkan kita semua untuk mempelajarinya dan sebagian tidak memperbolehkam.
Israilliyat juga bisa merusak kaidah-kaidah Islam dan Mukmin, dikarenakan berita (cerita-cerita) Israilliyat itu mengalirkan cerita-cerita yang menyesatkan, dan yang lebih buruknya lagi yakni pesyirikan kepada Allah. Sedangkan kita sebagai umat Islam tidak boleh mempelajari yang berhubungan dengan menyekutukan Allah.

B.     Saran
Sebenarnya kita tidak dilarang Nabi untuk mempelajari Israilliyat. Namun, yang dimaksud tidak disini adalah sekedar untuk mengetahui secara garis besar jika kita hanya ingin mengetahui dan menambah pengetahuan kita saja. Dan akan diperbolehkan lebih mendetail jika untuk kepentingan penelitian atau untuk pengetahuan umum. Namun, jika mempelajarinya untuk menambah Referensi dan ingin mempelajarinya untuk diyakini maka kita sangat tidak diperbolehkan. Karena hal ini akan merusak keyakinannya kepada Islam dan para umatnya.




DAFTAR PUSTAKA


1.      Abu Syahbah, Muhammad bin Muhammad (1408). Al-Israiliyyat wa al-Mawdu’at fi Kutub al-Tafsir.
2.      Al-Dhhabi, Muhammad Husayn(1987). Al-Tafsir wa al-Mufassirun.
3.      Abd al-Wahhab Abd al-Wahhab Faid(1978). Al-Dakhil fi al-Quran al-Karim.
  1. 4.      Al-Qattan, Manna’ Khalil. 2009. Studi Ilmu-ilmu Qur’an / Manna’ Khalil Al-Qattan, diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Mudzakir AS. –Cetakan 13--. Bogor : P.T. Pustaka Litera Antar Nusa.
5.      Zahabi, Muhammad Husain. 1993. Israilliyat dalam Tafsir dan Hadis, diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Drs. Didin Hafidhuddin.--Cetakan ke 2--. Bogor. P.T. Pustaka Litera Antar Nusa. 


[1] Israilliyat dalam kitab Tafsir dan Hadist.1993. hal. 1;
[2] Israilliyat dalam kitab Tafsir dan Hadist.1993. hal. 2;
[3] Ad dakhil fit tafsir oleh doctor suwailem hal 51
[4] Tafsiir wal mufasirun doctor husain zahaby
[5] Lihat Kitab al-Yahudi fi Biladil Arab, oleh Israil Alfansi, hal. 9;
[6] Israilliyat dalam kitab Tafsir dan Hadist.1993. hal. 11;
[7] Tafsir ibnu katsir jilid 2
[8] Israilliyat dalam kitab Tafsir dan Hadist.1993. hal. 27;
[9] Israilliyat dalam kitab Tafsir dan Hadist.1993. hal. 32;
[10] Israilliyat dalam kitab Tafsir dan Hadist.1993. hal. 33;
[11] Israilliyat dalam kitab Tafsir dan Hadist.1993. hal. 34;
[12] Israilliyat dalam kitab Tafsir dan Hadist.1993. hal. 208;

0 comments:

Post a Comment